Penjara Anak: Antara Menghukum dan Membina dalam Pencitraan

Penjara Anak: Antara Menghukum dan Membina dalam Pencitraan
Oleh: Mia Wahyuningsari

 

Matahari cerah menyapa langit Kutoarjo di siang itu. Dari balik bangunan yang pernah menjadi tempat tahanan perang semenjak zaman kolonial Belanda, DN (15 tahun) bersama rekan-rekannya yang lain menjalani rutinitas hariannya. Seluruh penghuninya adalah anak-anak dan remaja laki-laki. Ada yang mengunjungi “tetangga kamarnya”, ada yang mengambil air bersih atau menjemur pakaian, dan beberapa anak terlihat bercengkrama dengan akrabnya. Namun, pemandangan nan “damai” ini bukanlah tempat asrama putra ataupun pondok pesantren. DN dan puluhan rekannya yang lain berada dalam satu tempat yang disebut dengan penjara anak atau Lapas Anak Kutoarjo, di daerah Kutoarjo, Jawa Tengah. Mereka berada di sana dalam kurun waktu dan penyebab yang berbeda-beda. Namun impian mereka tetap sama. Menanti sebuah kebebasan.

Potret Kehidupan di Lapas Anak

DN hanyalah salah satu dari 92 anak berhadapan hukum (ABH) penghuni Lapas Anak Kutoarjo yang masih menjalani masa pidananya. Sambil memegang gitar dengan tangan kanannya, ia menuturkan kejadian yang membawanya sampai ke tempat ini. Tempat asalnya bukanlah disini,tapi di Yogyakarta. Karena kasus perkelahian, ia kini harus mendekam di lapas anak dalam waktu yang memang tidak sebentar. Sesekali DN tersenyum simpul, namun sesekali pandangannya sayu dan kosong. Rekan di sebelahnya, AN (13 tahun) bersikap lebih ceria dan bersahabat. Keluguan khas anak-anak masih terlihat pada sikapnya. Namun, ketika ditanya penyebab ia masuk ke lapas ini, ia pun dengan malu-malu menjawab. Kasus pencabulan yang ia lakukan pada saat ia masih di bangku sekolah dasar, membuatnya terjerat Pasal 285 KUHP dengan hukuman kurang lebih enam tahun penjara. Pidana tersebut adalah setengah dari waktu penahanan sesungguhnya bagi orang dewasa, yaitu dua belas tahun penjara. Selain anak-anak yang mendekam di lapas karena kasus mereka yang dianggap melanggar hukum, di lapas anak kutoarjo juga ada yang disebut “anak negara”, yaitu anak-anak yang biasanya berada di jalanan. Masa penahanan anak negara “hitungannya” bukan pidana, melainkan usia. Ada seorang anak negara yang berusia 14 tahun, dan dipidana 1 tahun karena kasus pencurian. Namun, karena tidak ada pihak keluarga yang menjamin, maka anak itu tetap berada di dalam lapas hingga usianya mencapai 18 tahun. Usia yang dianggap telah matang secara hukum.

Sebagian besar, anak-anak dan remaja di lapas anak sudah mengetahui pasal-pasal yang menjerat mereka untuk berada di sana. Lingkungan lapas, proses peradilan, dan hal-hal yang lainnya membuat mereka mau tidak mau juga mengetahui hal tersebut. Terlebih, keinginan untuk segera keluar dari tempat itu membuat mereka harus mengetahui berapa lama lagi proses pembinaan selesai dijalani.

Di lapas anak kutoarjo, bimbingan kejar paket dilakukan untuk menyejajarkannya dengan pendidikan di sekolah. Pemisahan kamar tahanan di dalam lapas pun dilakukan berdasarkan jenjang usia sekolah, misalnya paket A untuk anak-anak usia SD, paket B untuk usia SMP, dan seterusnya. Anak-anak dengan kasus yang berbeda-beda pun berkumpul menjadi satu. Dosen UNS sekaligus praktisi psikologi, Rin Widya Agustin, M.Psi mengatakan bahwa kemungkinan saling interaksional dan mempengaruhi itu ada, selama mereka berkumpul menjadi satu. Ketika mereka saling berinteraksi, proses belajar itu terjadi. “Orang-orang di sekitarnyalah, contohnya pengurus lapas yg harus membangun itu untuk berfungsi menjadi lebih positif”, tambahnya.

Jiwa Mereka Yang Sedang Berkembang

Menurut Rin Widya Agustin, M.Psi, orang dewasa judgementnya berbeda ketika melakukan tindakan yang melanggar hukum. Artinya mereka sudah mencapai stabilitas tertentu yang bertanggungjawab atas perilakunya sendiri, sementara anak belum sampai ke tahap itu. Di lapas anak kutoarjo, sebagian besar anak-anak yang dianggap melakukan tindakan melanggar hukum, motifnya tidak sama dengan orang dewasa. Kepala lapas anak kutoarjo, Drs. A. Rasyid Adjam,Bc, IP mengatakan, “ada anak yang sudah bolak-balik lapas hingga 4 kali karena mencuri itik atau jaket hanya untuk dipakai”

Dalam perkembangan moral anak dan remaja, teori psikoanalisis menjelaskan bahwa moral dan nilai menyatu dalam konsep super ego. Super ego dibentuk melalui jalan internalisasi larangan-larangan atau perintah-perintah yang datang dari luar, sehingga akhirnya terpancar dari dalam diri sendiri.Teori-teori lain yang non-psikoanalis beranggapan bahwa hubungan anak-orang tua bukanlah satu-satunya sarana pembentuk moral. Di dalam usaha membentuk tingkah laku, teori perkembangan moral Kohlberg menyebutkan bahwa faktor kebudayaan mempengaruhi perkembangan moral anak dan remaja. Terdapat berbagai rangsangan yang diterima oleh anak-anak dan remaja sehingga mempengaruhi tempo perkembangan moral.  Menyadari demikian kuatnya pengaruh orangtua dan masyarakat terhadap kejahatan yang dilakukan oleh seorang anak, maka sekedar tindakan menghukum saja tidaklah cukup. Tindakan yang jauh lebih penting tentunya upaya untuk merehabilitasi anak yang terlanjut berbuat salah.

Anak-anak “masa kini”, dinilai lebih cepat matang dari sekian tahun yang lalu. Hal itu tentu mempengaruhi juga kebutuhanya. Yang paling mendasar adalah perlindungan secara fisik dan mental. Dukungan atau kondisi nyaman dalam keluarga, adalah salah satunya. Dan secara psikologis ,mereka juga punya kebutuhan-kebutuhn mental yang lain, misalnya figur seseorang yang akan menuntun perkembangannya. Dan hal ini pun menjadi sebuah pertanyaan apakah hak anak akan kebutuhan mendasar tersebut dapat terpenuhi, ketika seorang anak masuk ke dalam lapas.

Selain bimbingan kejar paket sesuai kurikulum sekolah, kegiatan yang dilakukan di lapas diantaranya bimbingan rohani, shalat berjamaah, mengaji, pendampingan psikologis dari petugas lapas, hingga bimbingan keterampilan. Semua dilakukan dengan teratur dalam rangka pembinaan anak.

Di lain tempat, yaitu di Rumah Tahanan Kelas I Slamet Riyadi Surakarta, di sana ada “Kapas” yang mengadakan kegiatan pembinaan rutinnya setiap hari Sabtu. Lembaga yang mulai bergerak pada awal Agustus 2009 ini begitu intens mengadakan kegiatan bagi anak-anak warga binaan di sana. Pengelola “Kapas”, Dian Sasmita, S.H menuturkan bahwa satu tahun yang lalu ia sering mengamati keadaan penjara di berbagai daerah.

“Di sana sering terlihat napi maupun tahanan anak tidak ada yang memperhatikan. Kegiatan di rutan sebenarnya banyak, seperti mengaji, ceramah, perbengkelan, dan lain sebagainya. Peluang anak-anak mendapatkan pembinaan hanya satu, yaitu di kegiatan agama. Dari senin sampai minggu hanya kegiatan agama sajayang dilakukan, Olahraga pun, hanya sesekali saja. Anak memiliki kondisi psikologis yang berbeda dengan orang dewasa, sehingga memiliki cara penanganan yang berbeda pula. Jika anak hanya diberi pengajian dan diceramahi setiap hari, tidak akan ada yang masuk ke dalam diri mereka. Jiwa mereka masih di tengah, dan mereka harus didengar juga. Tidak hanya lewat obrolan, namun melalui kegiatan yang lain”.

Sebagai contoh, “Kapas” telah menyusun kurikulum dalam kegiatannya bersama anak-anak warga binaan secara terstruktur. Seperti kurikulum puisi yang berlangsung selama 8 kali pertemuan, mereka diajarkan cara membuat puisi, musikalisasi puisi, hingga cara membaca puisi yang dapat melatih kepercayaan diri mereka. Selain itu,mereka dibebaskan untuk menulis surat, berkirim pesan dengan kerabat, hingga “curhat” kepada para pengelola ‘Kapas’. “Kita membentuk pribadi mereka yang positif, percaya diri, sehingga bisa diterima oleh masyarakat”, imbuhnya.

ABH, petugas lapas, dan masyarakat memang merupakan tiga komponen dalam strata sosial pembinaan anak yang tidak dapat saling dipisahkan. Seorang anak yang menunjukkan perubahan sikap saat menjalani pembinaan baik di rumah tahanan maupun di lapas sudah selayaknya diberikan kepercayaan. Stereotipe negatif dari masyarakat mengenai ABH, dapat menimbulkan sebuah kontra sosial dimana anak akan merasa tidak diterima. Namun, kemungkinan lain pun dapat terjadi di saat lingkungan masyarakatnya-lah yang  justru tidak stabil. Akibatnya, ABH yang telah memperoleh kebebasan ‘terpaksa’ harus mendekam kembali di lapas maupun di rutan karena tidak seimbangnya ketiga komponen tersebut.

 

Pencitraan Lapas, Hukuman, dan Pembinaan

Rin Widya Agustin, M.Psi  menuturkan, bahwa penggunaan kata-kata “lapas” maupun “penjara anak” membangun persepsi sosial, dimana “lapas” itu identik dengan hukuman. Dalam pandangan agama, ada yang dinamakan tahap usia ‘baligh’ dimana dosa seorang anak belum dipertanggungjawabkan oleh dirinya sendiri. Untuk membangun mental seorang anak dan remaja, penamaan akan berpengaruh besar khususnya pada stigma masyarakat yang masih berpandangan negatif  dengan lapas, penjara anak,maupun anak-anak yang baru keluar dari sana. “Program rehabilitasi anak jauh lebih sesuai. Karena anak-anak itu bukannya dihukum, tapi dibina. Orientasi ‘lapas’ bukan membangun mental, namun memberikan hukuman agar jera. Dari pendidikan secara psikologis, hal itu berada dalam titik dimana penggunaan kata “lapas” lebih mengacu pada punishment. Orang itu bukan binatang sirkus. Manusia punya kualitas lebih daripada itu. Sistem reward dan punishment harus ditinggalkan jauh-jauh”, lanjutnya. Selain itu, pemerintah yang memprakarsai penggunaan kata-kata “lapas”, tentu memiliki peluang untuk membangun sebuah kelayakan berdasarkan tujuan dan pelaksanaanya [*]

*tulisan ini dimuat dalam majalah Kentingan Edisi XVII rubrik Laporan Khusus

 

Advertisements

4 thoughts on “Penjara Anak: Antara Menghukum dan Membina dalam Pencitraan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s