Perempuan Dalam Diri Amina

amina

Amina mungkin bukanlah seorang peragu”, hatiku berbisik. “ia hanyalah seorang perempuan istri keempat seorang penguasa, anggota legislatif di salah satu Negara bagian Nigeria, yang telah lama terkukung oleh kerasnya etnis, kukungan tradisi, dan diskriminasi perempuan. Seorang gadis dalam sebagian Negara itu didomestikasi sejak lahir dan dipandang sebagai beban, dipersiapkan untuk hanya berperan sebagai seorang isri atau ibu. Ia dibesarkan untuk memandang saudara laki-lakinya lebih baik darinya, memandang suaminya lebih dari majikannya, dan laki-laki pada umumnya sebagai manusia yang lebih unggul..

Hmm..tidak tepat untuk dikatakan sebuah review, resensi, atau apalah. Hanya secuil kisah tentang buku yang saya baca di minggu ini (dan belum saya rampungkan). Hanya saja sejumput kesan yang tertinggal itu menggelitik jari-jemari untuk segera menuliskannya. Hmm, buku ya? Judulnya Amina. Buat jaman sekarang, itu nama terkesan oldish dan sekiranya jarang (atau nyaris ngga akan) diambil untuk para orang tua yang anak perempuannya baru lahir–oke ngga penting. Ini novel pertama dari Mohammed Umar, master jurnalistik dari Moscow State University dan master ekonomi politik dari Middlesex University Inggris. Dia asli Nigeria–dan seperti kebanyakan penulis novel yang lain–novel ini mengambil latar di negeri penulisnya sendiri. Pilihan yang cukup aman, dan nyatanya Mohammed Umar cukup berhasil mengangkat keadaan sosial politik di negera dalam Benua Afrika tersebut. Siapa yang sering mendengar kisah–atau tertarik–untuk mendengar kisah tentang Nigeria? Haha, ini pertanyaan buat diri saya, bung! Dan lukisan tentang Bakaro (suatu wilayah distrik di Nigeria), saya dapatkan di sini. Dari kacamata seorang Mohammed Umar, mengalun dari perasaan seorang perempuan bernama Amina. Kisah yang tertutur begitu lembut, terkadang beritme cepat seperti tap dance, seringkali sulit dihentikan saat kita mulai membacanya (atau malah sedikit terperangah).

Yah, hampir sepanjang halaman dalam kisah yang memaparkan sebuah peristiwa kehilangan maupun kekerasan kepada para perempuan di negeri itu, dibalas dengan kalimat “itu adalah takdir Tuhan!”.

Pergolakan dalam diri Amina, sebagai istri seorang anggota legislatif yang lingkungannya sarat akan korupsi, kesewenang-wenangan kekuasaan, dan nuansa borjuisme yang kental di kalangan istri-istri, tidak membuat Amina bergeming. Dia selalu terpekur dalam takzim dan sembah kepada suaminya. Hingga gadis sekeras kepala Fatima, yang selalu berada di sisi Amina sebagai seorang sahabat tak henti-hentinya mendengungkan sebuah keyakinan, bahwa Amina punya kekuatan untuk menolong mereka para perempuan tersebut, Amina lalu terkesiap. Pertolongan untuk mereka, perempuan-perepuan Bakaro, seminimal mungkin adalah dengan pendidikan. Istri seorang Haji Haruna, muda, cantik, dan dihormati, namun terkurung di sangkar emas. Tidak sepatutnya ia berdiam diri. Ketika Amina memutuskan untuk meninggalkan Fatima dan kelompok debatnya di dalam kamarnya yang begitu luas, Fatima tetap berbicara padanya. Ia meninggalkan buku-buku, dan terus berbicara pada Amina tentang nasib perempuan yang semestinya mencecap pendidikan, karena baca tulis akan membuat nasibnya menjadi lebih baik. Amina tercenung. Hatinya bimbang.

“Fatima, katakan sejujurnya, apa yang kaudapat dari membaca buku?”

“Dengan membaca, kau banyak belajar bayak tentang kehidupan dan manusia. Buku meringankan hatimu, mencerahkan pandanganmu, menghilangkan salah paham, dan membuatmu merasa kau adalah bagian dari kemanusiaan. Singkatnya, buku adalah panutanku. Buku menunjukkan padaku bahwa aku tidak sendirian dalam perjuangan . aku bisa mengenal dunia dengan lebih baik, memperdalam pemahamanku akan sesuatu, menjelaskan padaku bagaimana dunia berputar dan berubah. Jadi jika au tak bisa mengubah dunia seperti yang kuinginkan, setidaknya aku tahu kapan mesti keluar dari jalan itu sebelum semuanya berubah arah dan berbalik melindasku. Tapi kau harus membaca dengan pikiran kritis, karena kau tak akan menemukan inspirasi dan pengetahuan pada buku-buku yang ada di perpustakaan kita. Kebanyakan buku-buku itu kosong…”

***

Memang belum usai lembar dalam lembar itu petualangan di Bakaro itu tuntas kujelajahi. Namun, dari beberapa petualangan lain yang kudapatkan dari tempat-tempat yang berbeda dalam kumpulan esai Julia Suryakusuma (Agama, Seks, dan Kekuasaan), tuturan kisah Pram tentang Kartini (Panggil Aku Kartini Saja), romantika Kejora dari Abidah El Khalieqy (Geni Jora), semua seolah membisikkan satu kata yang sama. Dengan atau tanpa laki-laki, belum atau sudah dalam sisi laki-laki, perempuan tetaplah perempuan, yang dia itu harus berpijak kuat pada langkahnya sendiri. Barangkali itulah yang coba disuarakan oleh Kartini, Julia, Kejora, Amina, dan Fatima (semuanya tokoh fiktif, kecuali Julia Suryakusuma yang memang sosok perempuan cerdas dan independen, terlepas dari bagaimana alur berpikir beliau). Barangkali, penceriteraan tokoh-tokoh dalam kisah tersebut dalam pengejawantahan para penulis, yang mau tidak mau memasukkan unsur pribadinya dalam kisah (dan saya curiga bahwa Mohammed Umar pun sebenarnya seorang laki-laki feminis)

Menyoal tentang perempuan dan laki-laki, seperti ada sebuah magnet yang membuat topik ini tidak habis untuk diperbincangkan. Seorang kawan (dia laki-laki, tulen semoga) pernah bersuara dengan kerasnya, “sebenarnya apa sih yang cewek-cewek pada pengen? Minta kesetaraan lah, apalah, inilah, itulah, selalu ngerasa ditindas, dikucilkan, padahal cewek yang menindas cowok juga banyak. Kalo gua sih ya, dari dulu pas jaman sekolah gua main sama temen-temen gua yang cewek, kalo emang pukul-pukulan ya gua juga mukul yang cewek. kalo mukul ya gua pukul beneran, kalo nendang ya gua nendang beneran, gua sih ga beda-bedain” cukup frontal memang, tapi saya hargai kejujurannya. Haha.. Saya pribadi tidak terlalu mempersoalkan tentang bagaimana posisi perempuan di lingkungan seperti apa.

Karena,

bicara tentang gender (ingat gender, bukan kodrat), kadang kala perempuan sendiri diperlakukan seperti itu (“ditempatkan” dalam posisi subordinat), karena justru perempuan sendiri yang memilih untuk menjadi seperti itu. Seperti Kejora kecil yang protes pada neneknya saat ia tidak mendapat pujian yang sepantasnya ketika ia mendapatkan rangking lebih tinggi dari pada adik laki-lakinya (“Ini kan nilai raport sekolahan, Cucu. Berapapun nilai Prahara di sekolahan, sebagai laki-laki, ia tetap ranking pertama di dunia kenyataan. Sebaliknya kau. Berapa pun rankingmu, kau adalah perempuan dan akan tetap sebagai perempuan”. Nenek ceramah. Bahwa perempuan harus selalu mau mengalah. Jika perempuan tidak mau mengalah, dunia akan jungkir balik berantakan seperti pecahan kaca. Sebab tidak ada laki-laki yang mau mengalah. Laki-laki selalu ingin menang dan menguasai kemenangan. Sebab perempuan harus siap me-nga-lah (pakai awalah ‘me’).

“jadi selama ini Nenek selalu mengalah?”

“Itulah yang harus Nenek lakukan, Cucu”

“Pantas Nenek tidak pernah diperhitungkan”

“Diperhitungkan?”

“Benar. Nenek tidak pernah diperhitungkan. Nenek tahu apa sebabnya?”

“Apa? Apa sebabnya, Cucu?”

“Sebab Nenek telah mematok harga mati, dn harga mati Nenek adalah kekalahan. Siapa yang mau memperhitungkan pihak yang kalah?”

Nenek dan Kejora. Ya, dua sosok yang (lagi-lagi) dibesarkan dalam tembok tinggi tata nilai patriarkat yang mengakar. Yang satu takzim, yang satu memberontak. Dan saya mungkin adalah salah satu orang yang sulit percaya bila ternyata pandangan ini masih ada dan mengakar karena saya tumbuh di dalam keluarga yang katakanlah, saling mendengarkan. Terlepas bagaimana feminisme itu ada dan sejauh mana setiap orang memahami feminitas itu sendiri, saya selalu percaya, lagi-lagi, bahwa seorang wanita memang wajib untuk tangguh dan mampu untuk menyembuhkan dirinya sendiri, entah pada saat dia masih sendiri (belum menikah) atau sudah berdampingan dengan suami. Dalam pandangan agama, tanggung jawab seorang perempuan itu ‘dipindahtangankan’. Dari tangan seorang ayah, hingga kemudian pindah ke tangan suaminya kelak. Dan, yah, saya percaya bahwa tidak ada waktu yang tepat untuk mandiri dan berpengetahuan. Karena setiap saat adalah waktu yang tepat….

Saya jadi teringat obrolan tadi malam dengan seorang kawan di warung angkringan, “kamu jangan bergantung pada seseorang yang kamu anggap hebat. Karena ketika kamu akan melangkah, di saat dia tidak memiliki waktu, kamu akan selalu menunggunya. Padahal belum tentu orang yang kamu anggap hebat itu lebih hebat daripada kamu. Istilahnya, berilah pembelajaran untuk dirimu sendiri. Istilah sombongnya, ‘gua bisa lebih baik dari elu’. Tapi itu kan sombong, kita ga usah pake sombong-sombongan, haha..” yah, kurang lebih begitulah kata-katanya. Memang apa yang kami obrolkan semalam itu tidak berhubungan dengan topik feminisme maupun laki-laki dan perempuan, tapi bagi saya cukup untuk menambah sebuah perenungan.

Surakarta, 10 Agustus 2012.
22 Ramadhan 1433 Hijriyah.

Advertisements

7 thoughts on “Perempuan Dalam Diri Amina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s