Demikianlah Aku dan Kamu

Dear Ahmad Arif Billah,

Surat ini aku tuliskan beberapa hari yang lalu, sesaat setelah mengatakan agar kamu segera mandi sore, sementara aku mengetik tugas yang harus aku selesaikan beberapa jam lagi. Lalu, kamu yang masih bergulingan di kasur dan tidak segera beranjak seperti biasanya membuatku gemas.

Aku menghela nafas, berusaha mengingat-ingat apa yang telah kita lewati selama ini.

Sungguh kita berdua masing-masing beranjak dewasa berdasarkan nilai-nilai yang kita genggam sendiri-sendiri, sedari kita masih belum mengenal angka, abata, dan juga kata-kata.

Aku yang dibesarkan oleh seorang Ibu yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan diri, komunikasi, dan kebersihan rumah, menjadikan aku yang sekarang. Kamu yang dibesarkan oleh Ibu yang sangat tenang menghadapi setiap situasi–seolah tidak ada satupun hal yang perlu dikhawatirkan,  menjadikan kamu yang sekarang.

Maka demikianlah kini aku dan kamu. Dua raga dan isi kepala yang berbeda, “tiba-tiba” saja berada dalam satu atap yang sama.

Maka demikianlah kini aku dan kamu. Akulah sang perempuan yang mengatakan apa yang aku pikirkan, aku rasakan, dan aku inginkan kepada kamu saat aku ingin menyampaikannya. Dan kamu sang lelaki yang lebih senang menata rapi pikiran dan perasaanmu sendiri dalam sebuah gua. Sampai tiba saatnya kamu menemukan momen yang tepat untuk menyampaikannya, meskipun tidak melalui kata-kata.

Maka demikianlah kini aku dan kamu. Aku sang pemimpi. Dan kamu yang membumi.

Aku  menjelma perempuan berkalang gelisah. Gelisah saat melihat temannya bisa kembali bersekolah, gelisah saat kenalannya sukses dalam karier, gelisah bercampur bahagia saat mendengar kawannya sudah memiliki anak lagi, untuk kedua atau ketiga kalinya, gelisah saat tugas belum selesai, gelisah saat rumah berantakan. Dan kamu menjelma lelaki bersalut ketenangan, layaknya hutan pinus di keheningan malam. Yang menghalau semua gelisahku dengan selalu berkata “tidak apa-apa”.

Di satu waktu aku menjelma menjadi perempuan yang mengharapkan adanya sebuah percepatan dalam sebuah tanya. Kamu menjelma menjadi lelaki yang percaya bahwa jawab hanya mendarat pada saat yang tepat.

Lalu kita masing-masing memasang pelindung bagi diri sendiri. Kita masing-masing merasa ada batas yang terlalu jauh dilewati. Kita pun kemudian sama-sama merasa tertekan lalu berpikir, “kamu sungguh mengesalkan”.

Lalu kita sama-sama terdiam.

Aku terdiam dan menangis. Kamu terdiam dan lalu tetap diam.

Lalu kita sama-sama marah.

Lalu kita sama-sama merasa kesepian.

Lalu kita sama-sama mencoba mendekat kembali dengan saling berbicara.

Berbicara tentang apa inginnya aku. Berbicara tentang bagaimana inginnya kamu.

 

Kemudian,

apa lagi yang diharapkan dua insan ini saat tidak ada alasan untuk melanjutkan amarah?

Kita barangkali sama-sama kecewa, tapi kita bersepakat untuk mengucap dan menerima maaf.

Karena pikiran kita tidak selalu bersenyawa, maka harus selalu dikalibrasi agar satu frekuensi.

 

Maka demikianlah kini aku dan kamu. Yang sejak awal berharap agar kita bisa bersahabat selamanya, tidak sekedar bersama menjadi pasangan semata-mata karena adaya ikatan pernikahan. Saat perasaan cinta ala anak muda yang meluap-luap sudah lewat masanya, aku tetap padamu.

Karena bersamamu, aku menjadi tenang.

Maka demikianlah aku dan kamu. Yang bersama dalam kurun waktu tiga tahun lamanya pada hari ini. Saat aku merasa terbiasa padamu, tapi ternyata kamu tetap membawa kejutan baru.  Saat aku merasa sudah sangat mengenalmu, ternyata kamu masih memiliki sisi misteri untuk selalu aku gali.

Kamu adalah buku yang tidak akan pernah selesai aku baca. Karenanya, aku selalu mempelajarimu. memperhatikanmu. Membacamu. Setiap garis besarnya, setiap catatan kaki dan detilnya.

Kamu adalah buku yang tidak akan pernah selesai aku baca. Karena saat aku selesai mempelajari satu kopi, ternyata edisi yang baru sudah terbit lagi. Maka aku merawat dan meletakanmu hati-hati, layaknya cinta seorang pecandu buku terhadap aroma kertas dan tulisan yang hangat, yang baru saja keluar dari percetakan.

Maka demikianlah aku dan kamu. Saat kamu membaca ini, mungkin kamu akan berekspresi secara datar seperti biasanya. Tapi aku tahu, ada senyum yang tidak bisa kamu sembunyikan dari hadapanku. Dari hadapan perempuan yang membaca kamu.

 

Hai, tidak usah bingung. Aku cuma mau bilang, aku sayang kamu.

Dan kamu pun nanti akan menatapku sambil mengatakan bahwa kamu juga sayang padaku.

 

Karena,

memang seperti biasanya, demikianlah,

aku dan kamu.

 

🙂

Advertisements

2 thoughts on “Demikianlah Aku dan Kamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s