[NHW 5 IIP] Desain Pembelajaran Menulis Ala-ala

person-woman-desk-laptop

Foto: pexels.com

Di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini, salah satunya saya isi dengan kegiatan mengerjakan tugas kelima IIP, sekaligus tugas terakhir sebelum libur Lebaran mulai. Tugas kali ini adalah membuat desain pembelajaran see-bebas mungkin, berdasarkan NHW 1 sampai 4 yang sudah dibuat sebelumnya. Kalau bukan karena IIP, mungkin saya nggak akan iseng membuka-buka lagi Adobe Illustrator yang sudah lama nggak saya sentuh. Ya, hasilnya sungguh kacrut saudara, dan nggak layak dilihat anak desain. Nggak ada anak desain di sini kan btw? Tapi lumayan lah buat pemula mah. Maklumin ya, saya mah da bukan orang desain. Anggap aja saya newbie selamanya. Hehe.

Jadi, jurusan ilmu yang saya ambil pada saat NHW 1 adalah ilmu bersyukur. Tapi, saat ada tantangan di NHW 4 untuk membuat milestone per tahun, di situ saya merasa tenggelam dalam pusaran pikiran saya sendiri. Mumet, kalau bahasa sepanyol nya mah. Saya yang berpikiran amat praktis ini merasa, kalau ilmu syukur itu sulit di-milestone-kan. Karena, manusia itu tempat salah dan lupa. Kalau sudah merasa baik dan bersyukur di hari ini, bisa jadi besoknya tersilap lagi. Jadi, saya memutuskan untuk menambahkan jurusan ilmu menulis dalam kehidupan saya, di samping ilmu syukur yang sudah saya ambil.

Nah, minggu ini, tantangan NHW nya adalah membuat desain pembelajaran see-bebas mungkin, berdasarkan NHW 1 sampai 4 yang sudah dibuat sebelumnya. Eh kok balik lagi? Ya wes,  intinya saya sudah selesai buat. Ini dia penampakannya:

Desain Pembelajaran “Woman Writer (wannabe). Yeah, it’s me. Hopefully.

Saya membuat desain pembelajaran ini, dan membaginya ke dalam dua bagian besar, yaitu “Walk In, Self-Empowered” dan “Go Out, Step Ahead”. Simpelnya, “Walk In, Self Empowered” itu adalah penguatan dari diri saya pribadi, dari dalam. Sedangkan kalau “Go Out, Step Ahead” adalah saat ketika saya mulai melangkah keluar, berinteraksi dengan orang-orang, dan mulai menjalani langkah-langkah kecil saya dalam menulis. Berhubung saya adalah tipikal orang yang lumayan random-abstrak, desain ini tidak saya susun secara sistematis. Jadi, semua langkah-langkah ini dapat dilakukan secara bersamaan, disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan.

Penjelasan singkat dari desain pembelajaran di atas adalah sebagai berikut:

Walk In, Self-Empowered

  1. Life Goes On. Be Friend With the Past. Seseorang nggak akan bisa bahagia selama ia belum berdamai dengan dirinya sendiri. Saat ia bisa memaafkan masa lalunya, insya Allah ia akan lebih mudah melangkah.
  2. Be Patience, Do Salat. Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Karena, hanya dengan mengingat Allaj, hati menjadi tenang.
  3. Family Bonding. Tidak ada tempat melepas lelah dan penghibur hati terbaik selain ikatan keluarga yang begitu rapat dan hangat 🙂
  4. Read, Read, Read. Tidak mungkin bisa membuat tulisan (yang berkualitas) jika tidak mau membaca. Termasuk, membaca tata tulis yang benar sesuai EYD juga termasuk. Buku, artikel, jurnal, see-muanya.
  5. Sensing and Feeling. Lihat. Dengar. Rasakan. Semua hal di sekeliling kita, dan jadi bagian di dalamnya. Makna hidup bisa didapatkan dari sana.
  6. Write Daily Journal. Atau, bahasa lebih simpelnya sih, nulis diari. Isinya menye-menye nggak masalah, toh tidak ada orang lain yang tahu. Ups.
  7. Enjoy Leisure Time. (Karena orang lebih mudah mati karena penyakit psikis daripada penyakit fisik).
  8. Self-Evaluate. Evaluasi diri sendiri, apakah terlalu kendor kemajuannya, apakah terlalu lelah bekerja (tapi saya lebih sering leha-leha sih). Bisa meminta pendapat keluarga juga.

 

Go Out, Step Ahead

  1. Write Great Stories. Cita-cita jangka panjang. Sampai saat ini, saya belum bisa membuat cerita yang legendaris. Masih jauuuh sangat.
  2. Make a Comics. Peer yang pertama: belajar menggambar digital dulu, dengan Manga Studio.
  3. Join Competition. Bisa dimulai dari mengikuti lomba blog atau write challenge yang bertebaran di medsos.
  4. Active Blogger. Nah ini dia. Saya masih belum perigel menulis di blog kecuali membuat tugas IIP. Duh.
  5. Discuss. Diskusi dengan teman, diskusi dalam seminar, diskusi dari mentor/guru, diskusi dalam acara diskusi, diskusi tentang apapun, dimanapun. Berdiskusi secara langsung dengan orang lain adalah peluang untuk mendapatkan ilmu baru.
  6. Be a Storyteller. Saya pertama kali menjadi pendongeng anak-anak saat tinggal di Solo beberapa bulan yang lalu. Rasanya membahagiakan. Selain itu, membaca buku cerita anak-anak dapat membawa perspektif saya tentang ke dunia anak. Rasanya berbeda dan menyenangkan 🙂
  7. Proofread By Others. Saya akan meminta tulisan-tulisan yang saya buat nanti dikurasi oleh orang-orang yang saya percaya, agar kualitasnya dapat lebih baik, dan juga mendapatkan second opinion tentang proyek yang sedang saya kerjakan.
  8. Write Children Book. Menulis buku untuk anak-anak itu susah. Ini menjadi salah satu tantangan yang saya ambil.
  9. Join Community. Komunitas menulis, komunitas blogger, komunitas IIP. Komunitas apapun, yang dapat memperluas pandangan dan juga menngkatkan kemampuan menulis saya.
  10. Make Film Script. Ini juga proyek jangka panjang dan sangat menantang, kolaborasi dengan suami.

Semoga saya bisa telaten belajar, agar bisa terwujud satu demi satu. Seandainya dalam jangka panjang pun belum terwujud, yang paling penting adalah saya sudah berusaha menuju ke arahnya. Semoga Allah memudahkan..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s