Game Kelas Bunsay lvl 1: Komunikasi Produktif (Hari ke-1)

Kelas Bunda Sayang di minggu pertama ini menyuguhkan tantangan kepada para muridnya untuk melakukan komunikasi produktif dengan anggota keluarga.

Pelaksanaan kelas Bunda Sayang ini hampir mirip dengan Kelas Matrikulasi. Ada materi, dan ada penugasan. Bedanya, kalau tugas-tugas di Kelas Matrikulasi itu (menurut saya) lebih banyak di perencanaan, maka di Kelas Bunda Sayang ini saya dan teman-teman diarahkan untuk praktik langsung.

Kemudian, tugas yang diberikan memang lebih singkat dan lebih ringkas sih, bukan berupa esai panjang seperti di Kelas Matrikulasi. Hanya saja, pelaksanaan yang berkesinambungan alias dilakukan secara 10 hari berturut-turut itu benar-benar tantangan bagi saya yang pada dasarnya memang malesan #eh.

Nah untuk game atau tantangan level 1 ini dilakukan dalam periode 2-18 November 2017, dan pelaksanaan tugas dilakukan minimal 10 hari sebagai syarat ketuntasan. Saya memilih suami sebagai partner untuk melakukan game komunikasi produktif (karena belum ada pilihan lainnya wakakak).

Teman-teman yang lain sudah start  tantangan ini semenjak tanggal 2, apalah daya saya baru start tanggal 7 ini. Selain alasan suami akhir-akhir ini lembur di kantor demi nimbun berlian karena ngejar deadline, saya memang penganut setia the power of setya novanto the power of kepepet (huh, alasan).

Percakapan saya dengan suami masih sebatas dilakukan melalui Whatsapp. Awal ceritanya, suami tiba-tiba berkeinginan untuk mengajak saya pergi ke Malaysia pada bulan ini. Dia berkata, ingin bertemu dengan rekan kerjanya saat di sana. Sebagai manajer keuangan keluarga saya hanya bisa bengong  berusaha mencari jalan terbaik dan mendiskusikannya dengan suami.

Ini dia hasilnya:

Mee: Lemburanmu selesai tanggal berapa kira2? Aku mau survey harga tiket

Suami: Amannya sih sekitar tgl 18 atau 25 miu..

Mee: Aku udah hitung ulang semuanya..kalau dijumlah sama tunai yang ada di dompetku, jumlahnya ada sekitar *sensor*, bukan *sensor*..td aku udah cek ke bank *sensor* juga..

Mee: [kirim lima screenshot rincian pengeluaran awal bulan ini]

Mee: Ini perinciannya

Mee: [kirim satu screenshot lagi]

Mee: Ini general overviewnya..withdrawal *sensor* itu tabungan rutin kita

Suami: Ooh..Okai miu~

Suami: Jadi gimana, jadi tidak 😀

*di sini saya mengalami krik-krik moment. Gimana nggak, saya kirim perincian detail, tanggapannya langsung minta kesimpulan. Ibarat kata kita-kita lagi presentasi cara membuat chiffon cake, lalu ada yang tanya kuenya sudah matang apa belum wakakak. Tapi berhubung saya sudah berusaha menyesuaikan frekuensi obrolan maupun cara bicara saya dan suami yang kadang-kadang bikin gregetan satu sama lain, saya menanggapi dia apa adanya (dan berusaha selogis mungkin).

Mee:

Kita tetap bisa berangkat, dgn beberapa catatan:
1. Melakukan penghematan dari uang makan, dan kita bisa memberikan bonus kepada diri kita  sesekali saat aku dapat komisi dari kerjaan freelance-ku
2. Menekan biaya charity kepada keluarga maksimal hanya *sensor*atau kurang dari itu
3. Menekan pengeluaran selama di Malaysia, jgn sampai lebih dari *sensor*, atau kalau bisa kurang dari itu

Gimana?

Mee: Btw, tiket pesawat lebih murah tgl 18 daripada tgl 25

Mee: [kirim dua screenshot harga tiket ke Malaysia dari app Travel*ka pada tanggal 18 dan 25]

Mee: Kalau yakin kita bisa brgkat tgl 18, aku pesan tiketnya sekarang2..soalnya kalau semakin dekat hari H, harganya semakin mendekati sejuta per orang..hahaha

Mee: Selamat menanggapi [emot LOL]

Suami: Ooh..
Charity sih kalo bisa jgn kurang dr *sensor*. Hehe..
Ya kita lihat sampai tgl 11an. Kalo progres kerjaan sama penghematan kita bagus bisa proceed tgl 18

Mee: Nanti harga tiketnya naik..plus ga dapat jam yg bagus. Kalau aku pesan skrg gimana?
Travel*ka bisa ubah jadwal keberangkatan. Cara ubah jadwalnya gampang kok..gimana?

Suami: Mm..Give me one day..

Mee: Oke

Mee: Atau, mau ke traban dulu? ^^

Suami: Boleh juga..Hehe..

Ngomong-ngomong, Traban itu adalah nama daerah kampung halaman suami di Boyolali. Sebenarnya, saya iseng mengajukan hal demikian karena selain kami belum sempat menengok Ibu yang baru saja usai melakukan operasi miom  beberapa bulan yang lalu (terakhir berkunjung saat lebaran di tahun lalu)–perjalanan ke Jawa Tengah itu lebih murah daripada trip ke negara tetangga wakakak.

Ternyata, suami setuju. Kami pun sepakat tetap akan berangkat ke Malaysia lain waktu, dengan perencanaan yang lebih matang. Setelah sepakat kami akan menengok keluarga di Boyolali bulan ini, saya pun menyampaikan keterkejutan saya perihal keinginan suami yang tiba-tiba itu. Selain itu, kami juga membahas tentang keinginannya memesan 3D modelling untuk rencana film series indienya yang biayanya lumayan kalau digabungkan dengan rencana bepergian kami.

Mee: Frankly I suprised enough when you wanna go to malaysia suddenly. Our finance are not ready yet..but you were seem so happy, I couldn’t bear it 😂

Suami: hahhaha, I’m fine 😀

Mee:Wkwk
How about your plan about making the modelling then?

Suami: I’m not sure if it’s safe enough to spend such a big money on something that’s still uncertain. Haha

Mee:

Hey, it’s really okay 🙂
we can make your plan certain by the time. We can’t make all the things gonna be perfect in instant. I will help you

If our budget doesn’t undergo well for your project in this month caused by our trip, we will make it next year Insya Allah

Suami: yea, still thinking about it

Mee: [emot kiss]

Berdiskusi mengenai rencana perjalanan memang kadang-kadang bikin dug-dug serr. Saya harus menyesuaikan kemampuan finansial dengan jadwal waktu luang suami yang kadang-kadang bisa nggak match kalau lagi cari harga tiket. Sebisa mungkin, saya juga harus menghindari peak season yang membuat harga tiket semakin mihil. Belum lagi hal-hal printilan yang harus disiapkan saat mau melakukan perjalanan ke kampung halaman seperti jajanan, ongkos kendaraan umum, dan lain-lain. Tapi setelah kami mendapatkan solusi, plong rasanya. Alhamdulillah yah~

Saya menekankan kata “gimana?” di akhir setiap penjelasan saya, karena saya tidak ingin mengambil keputusan sepihak, tapi memberikan pilihan terbuka kepada suami sebagai salah satu bentuk aplikasi dari komunikasi produktif. Selain itu, kami bisa saling mendengarkan pendapat satu sama lain tanpa merasa pendapatnya yang paling benar.

catatan: semua rekam percakapan Whatsapp ini sudah diedit sedikit demi menjaga privasi tanpa mengurangi esensi, dan sudah atas seizin suami saya untuk mempublikasikannya.

#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s