GAME KELAS BUNSAY LVL 1: KOMUNIKASI PRODUKTIF (HARI KE-2)

Saya dan suami saling terbuka satu sama lain, termasuk urusan inbox message, apapun itu. Mulai dari SMS, Whatsapp, Messanger, Line, dan lain-lain. Kami satu sama lain saling mengizinkan untuk melihat atau membuka-buka ponsel masing-masing. Mungkin ada beberapa artikel yang mengatakan bahwa melihat-lihat inbox pasangan adalah tanda insecure. Buat saya dan suami, justru karena saling percaya, makanya kami santai saja inbox dibuka-buka dan dibaca oleh  pasangan.

Kemudian, saya menemukan sesuatu yang menarik. (Mantan) rekan kerja suami, perempuan (sebut saja Mercusuar) saya perhatikan kerap kali bertanya banyak hal pada suami, mulai dari bertanya soal teknik pengerjaan animasi, minta tutorial, bertanya soal agama, sampai minta terjemahkan email dari klien. Hal-hal seperti itu kerap kali ditanyakan, walaupun suami dan si Mbak Mercusuar itu sudah tidak satu kantor.

Tanggapan (wajar) saya sebagai istri, langsung mengatakan, “Manja banget sih ini orang. Ini kan jaman Googling, emang dia nggak bisa belajar sendiri apa? Hih! Kamu aja kalau belajar kan otodidak, usaha sendiri dulu. Lagian memangnya di kantornya nggak ada orang lain ya? Harus nanya ke kamu banget?”

“Tahu tuh,” suami menanggapi dengan selaw kayak di Moskow.

Saya melayangkan beberapa kekesalan saya tentang Mercusuar kepada suami, dan seperti biasa dia menanggapi dengan santai. “Dia anak kecil”, ujarnya enteng. Huh, anak kecil apanya. Usianya beberapa tahun saja di bawahku. Tapi kalau dilihat dari bahasanya, Mercusuar memang kekanakan.

Kadang saya gemas sendiri dengan suami yang sebegitu santainya. Saya mengatakan, “Aku nggak suka kamu terlalu dekat dengan Mercusuar!”

“Maaf ya..Mau aku bilangin kalau dia jangan nge-chat aku lagi?”, ujarnya. Ah, sebenarnya kan, suami hanya menanggapi seperlunya, dan saya pun tahu itu.  Obrolannya pun kebanyakan seputar dunia kerja mereka. Ketika Mercusuar mulai berakrab-akrab ria, suami menanggapi singkat-singkat seperti biasa, bahkan terkesan dingin. (Di sini saya merasa senang. Haha)

Saya terdiam sesaat.

“Aku nggak nyaman dengan sikap dia yang bertanya ini itu sama kamu. Kamu nggak perlu menyuruh dia untuk berhenti ngechat kamu. Aku hanya menyampaikan ketidaknyamanan aku aja. Aku tetap tenang, sepanjang sikapmu tetap sewajarnya.”

“Maafkan aku ya. Tenang saja”, ujarnya serius.

Ah, dalam upaya komunikasi produktif ini, saya sering berpikir saya sebaiknya banyak berguru dengan suami. Dia begitu menyenangkan diajak bicara dan tidak segan meminta maaf. Saya pun lega saya bisa menyampaikan ketidaknyamanan saya, dan dia pun menanggapinya dengan baik tanpa menganggap saya berlebihan.

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s