GAME KELAS BUNSAY LVL 1: KOMUNIKASI PRODUKTIF (HARI KE-3)

Au (4 tahun), keponakan yang super aktif dan memiliki energi tiga orang balita pada umumnya, baru saja memiliki adik laki-laki. Au anak yang sangat lincah dan senang bercerita. Di sisi lain, dia adalah anak yang keras hati. Jika memiliki keinginan, maka orang-orang di sekitarnya harus segera mengabulkannya. Jika tidak, maka ia akan menjerit-jerit, mengamuk, dan marah. Bahkan tidak jarang sampai melakukan perilaku agresif yang cenderung menyakiti ibunya, neneknya, bahkan kakeknya, seperti mencakar, mencubit, dan memukul-mukul. Meskipun itu tenaga anak empat tahun, bukan berarti nggak sakit yak.

Tapi herannya, saya  sebagai tantenya  tidak pernah dipukul, dicubit, atau perilaku fisik lainnya. Saya pikir, mungkin karena dari dulu saya hanya sesekali berada di rumah, jadi saya jarang berinteraksi dengan dia. Berbeda dengan perilaku dia kepada kakek neneknya yang setiap hari bertemu, karena rumah kakak saya bersebelahan persis dengan rumah bapak dan ibu. Perilakunya pada saya masih “sebatas” menjerit-jerit merajuk apabila keinginannya tidak segera dipenuhi. “Segitu” saja saya masih suka ngelus dada. Fiuh.

Mungkin dia memang sedang berada dalam fase negativistik, seperti yang baru saja didiskusikan di Grup Whatsapp Kelas Bunda Sayang yang saya ikuti. Apalagi, semenjak punya adik, perilakunya semakin menjadi-jadi. Sibling rivalry?

Saya belum pernah menjadi ibu. Tapi, saya selalu mengingat-ingat agar saya tidak ikut terlarut dalam chaos yang Au ciptakan, dan berusaha untuk menerapan komunikasi produktif.

Suatu ketika, Au menumpahkan minumannya. Neneknya sampai kesal, karena Au melengos begitu saja.

“Au, ayo dilap”, ujarku

“Nggak! Ateu aja!”

“Lah, yang numpahin siapa?”

“Nggak!!”

Saya berpikir keras. Duh, ini yang dihadapi kakak, ibu, dan bapak saya setiap hari. Hehehe. Harus punya stok sabar yang luar biasa banyak.

“Ayo dibersihkan. Kalau airnya tumpah, harus dibersihkan, ya. Pakai tisu”, saya berusaha mengatur nada bicara saya sepelan mungkin, dan tidak ikut terbawa emosinya.

“Nggak mauu! Ateu ajaa!”

Saya  kemudian berjalan menuju kotak tisu dan mengambil beberapa lembar.

“Ini tisu buat ngelap lantainya. Ayo dibersihkan sama Ateu lantainya”

Kemudian ia berjalan mendekati saya, dan mengambil tisu yang saya ambilkan untuknya. Saya lalu mengelap lantai, dan ia ikut mengelapnya juga dengan tisu tersebut. Lah berhasil? Haha. Setengah takjub saya hampir tidak percaya.

Untuk saya yang belum pernah memiliki anak, komunikasi produktif dengan anak balita saya coba praktikkan pada Au. Saya beberapa kali mencoba berkomunikasi dengan dia, dengan cara “mendiamkan” kemarahannya dan tidak mempedulikan jeritan-jeritan rajukannya. Setelah ia tenang, barulah bisa diajak bicara. Yang jelas untuk bisa seperti itu, perlu cadangan kesabaran yang luaaar biasa banyak. Wah, semoga saja kelak saya akan menjadi ibu, semuanya akan baik-baik saja.

#hari3
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s