Demikianlah Aku dan Kamu

Dear Ahmad Arif Billah,

Surat ini aku tuliskan beberapa hari yang lalu, sesaat setelah mengatakan agar kamu segera mandi sore, sementara aku mengetik tugas yang harus aku selesaikan beberapa jam lagi. Lalu, kamu yang masih bergulingan di kasur dan tidak segera beranjak seperti biasanya membuatku gemas.

Aku menghela nafas, berusaha mengingat-ingat apa yang telah kita lewati selama ini.

Sungguh kita berdua masing-masing beranjak dewasa berdasarkan nilai-nilai yang kita genggam sendiri-sendiri, sedari kita masih belum mengenal angka, abata, dan juga kata-kata.

Aku yang dibesarkan oleh seorang Ibu yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan diri, komunikasi, dan kebersihan rumah, menjadikan aku yang sekarang. Kamu yang dibesarkan oleh Ibu yang sangat tenang menghadapi setiap situasi–seolah tidak ada satupun hal yang perlu dikhawatirkan,  menjadikan kamu yang sekarang.

Maka demikianlah kini aku dan kamu. Dua raga dan isi kepala yang berbeda, “tiba-tiba” saja berada dalam satu atap yang sama.

Continue reading

[NHW 3 IIP] Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

reading-77167

Foto: pexels.com

Penugasan NHW kali ini cukup spesial. Di minggu ketiga ini, saya dan kawan-kawan di Kelas Matrikulasi IIP mendapat penugasan tentang membangun peradaban dari dalam rumah. Di bagian satu, menulis surat cinta untuk suami…yang dibaca publik. Haha. Biasanya sih, saya main gombal-gombalan sama suami (okay, saya yang lebih sering ngegombalin dia) secara privat. Hanya diantara kami berdua, bukan konsumsi publik. Daan, berhubung ini disetting buat publik, saya akan menuliskannya agar layak baca (dan lulus sensor, eh) khalayak ramai.

Ah, memang apa sih yang biasa saya tuliskan~

Continue reading

Hikayat Dua Orang Suku Nomaden

 

Jaman SMP atau SMA, pada saat mudik lebaran yang entah keberapa hijriyah, seperti biasa kami silaturahim ke rumah nenek di kota sebelah.

Mudik ekspres.

Dalam perjalanan yang menurut saya cukup melelahkan dari Bogor ke Sukabumi, kami sekeluarga hanya menumpang makan, mengobrol sebentar, menyeruput teh hangat, lalu berpamitan pulang di hari yang sama. Saat itu, Bapak rasa-rasanya lebih sibuk dari biasanya setelah pindah tempat dinas.

“Bapak mah..masa lebaran juga liburannya cuma sebentar?”, Saya yang saat itu masih abegeh-tapi-nggak-pake-gahol menghela nafas panjang. “Nanti Mia pokoknya mau punya suami teh yang selalu ngajak jalan-jalan!”. Terdengar suara Bapak dan Ibu yang tertawa keras di bangku depan.

Saat itu, saya tidak ingat apakah setelah tawa yang cukup panjang, disusul dengan aamiin dari beliau berdua atas ucapan “doa” saya. Doa keceplosan seorang remaja yang seragamnya sering bau keringat dan asap knalpot jalanan.

Yang jelas, apapun yang terjadi saat itu, untaian indah doa saya menjadi kenyataan. Wk.

Continue reading