Demikianlah Aku dan Kamu

Dear Ahmad Arif Billah,

Surat ini aku tuliskan beberapa hari yang lalu, sesaat setelah mengatakan agar kamu segera mandi sore, sementara aku mengetik tugas yang harus aku selesaikan beberapa jam lagi. Lalu, kamu yang masih bergulingan di kasur dan tidak segera beranjak seperti biasanya membuatku gemas.

Aku menghela nafas, berusaha mengingat-ingat apa yang telah kita lewati selama ini.

Sungguh kita berdua masing-masing beranjak dewasa berdasarkan nilai-nilai yang kita genggam sendiri-sendiri, sedari kita masih belum mengenal angka, abata, dan juga kata-kata.

Aku yang dibesarkan oleh seorang Ibu yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan diri, komunikasi, dan kebersihan rumah, menjadikan aku yang sekarang. Kamu yang dibesarkan oleh Ibu yang sangat tenang menghadapi setiap situasi–seolah tidak ada satupun hal yang perlu dikhawatirkan, ¬†menjadikan kamu yang sekarang.

Maka demikianlah kini aku dan kamu. Dua raga dan isi kepala yang berbeda, “tiba-tiba” saja berada dalam satu atap yang sama.

Continue reading

Advertisements