[NHW IIP 8] Misi Hidup & Produktivitas

pexels-photo-60230

Foto: pexels.com

Pada kuliah matrikulasi IIP yang ke-8, saya dan teman-teman peserta lainnya belajar mengenai misi hidup dan produktivitas. Tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga.

Untuk lebih menggali bagaimana penerapan secara teknisnya, NHW kali ini adalah seputar menentukan misi hidup. Jadi ingat rasanya sewaktu berorganisasi di SMA waktu itu. Saya pertama kali diperkenalkan istilah visi dan misi, yaitu pada saat kegiatan ekstrakulikuler. Kami diminta menentukan apa saja tujuan berorganisasi, dan bagaimana cara-cara meraih tujuan itu.

Saat ini, saya dihadapkan lagi denagn perihal misi. Namun, yang  kali ini langsung kepada misi hidup. Sungguh, tidak diciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada Allah swt. Dan sebaik-baiknya manusia, adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Maka,

Dengan cara-cara yang bagaimanakah hidup ini dijalani,

agar dapat tercapai tujuan “sebaik-baiknya manusia”?

Continue reading

[NHW 7 IIP] Mengenali Diri Sendiri Lewat Strenght Typology

selfie-portrait-picture-photo

Foto: pexels.com

Kuliah matrikulasi ke-7, adalah tentang “Tahapan Menuju Bunda Produktif”. Pada Nice Homework kali ini, peserta matrikulasi diberikan tugas untuk mengikuti tes strenght typology di http://www.temubakat.com, tools yang ditemukan oleh Abah Rama.

Jadi singkatnya, streght typology ini adalah tes untuk menemukan potensi dan bakat yang ada dalam diri kita. Tujuannya, agar kita lebih fokus mengembangkan diri pada kekuatan yang kita miliki dan memperbanyak aktivitas yang dapat menguatkan potensi tersebut, sekaligus mengurangi fokus kita pada kelemahan-kelemahan diri. Karena, setiap manusia dilahirkan dengan fitrah keunikannya masing-masing. Harapannya setiap orang bisa berkembang sesuai fitrah yang ia bawa sejak lahir, agar bisa menjadi pribadi yang lebih berbahagia (selain rasa syukur selalu tentunya). Mengutip kata-kata Ibu Septi Peni Wulandani, Founder IIP, “Meninggikan gunung, bukan meratakan lembah”. It’s so relatable.

Yap, NHW kali memang menyenangkan. Siapa yang tidak suka diajak mengenali kepribadiannya lebih dalam? Hehe. Saya sudah megikuti tes ini satu kali, dan hasil tesnya masih ada. Namun, saya memutuskan untuk mencobanya kembali. Apakah mungkin hasilnya berbeda?

Ternyata memang berbeda.

Apakah karena pengaruh sifat manusia yang sangat dinamis dan selalu berkembang, atau memang karena pengaruh lingkungan saat ini? Entah. Yang jelas, saya merasa tes kali ini lebih dekat dengan kepribadian saya yang sekarang.

Mungkin juga, yang sesungguhnya.

Continue reading

[NHW 6 IIP] Belajar Menjadi Keluarga Handal

pexels-photo-173666

Foto: pexels.com

NHW kali ini adalah seputar pembelajar bagi Ibu menjadi manajer dalam keluarga. karena mengejar deadline, langsung saja ya 🙂

3 aktivitas yang paling penting:

  1. Ibadah tepat waktu
  2. Quality time bersama keluarga
  3. Belajar (membaca, menggambar, menulis)

3 aktivitas paling tidak penting:

  1. Bermain gadget terlalu lama
  2. Larut dalam kecemasan yang tidak perlu
  3. Tidur setelah subuh

Kandang waktu:

Waktu tidur       : 6.5 jam

Waktu keluarga : 7 jam

Waktu pribadi    : 10.5 jam

Jadwal Harian

Jadwal kegiatan ini akan dilaksanakan selama satu minggu. Apabila dapat konsisten, dapat diteruskan hingga tiga bulan ke depan.

Dalam jadwal ini, terlihat saya memiliki banyak waktu luang, karena saya belum memiliki anak. Jadi, saya maksimalkan waktu luang itu belajar sebanyak-banyaknya dan juga persiapan kuliah.

Kuadran waktu

 

[NHW 5] Desain Pembelajaran Menulis Ala-ala

person-woman-desk-laptop

Foto: pexels.com

Di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini, salah satunya saya isi dengan kegiatan mengerjakan tugas kelima IIP, sekaligus tugas terakhir sebelum libur Lebaran mulai. Tugas kali ini adalah membuat desain pembelajaran see-bebas mungkin, berdasarkan NHW 1 sampai 4 yang sudah dibuat sebelumnya. Kalau bukan karena IIP, mungkin saya nggak akan iseng membuka-buka lagi Adobe Illustrator yang sudah lama nggak saya sentuh. Ya, hasilnya sungguh kacrut saudara, dan nggak layak dilihat anak desain. Nggak ada anak desain di sini kan btw? Tapi lumayan lah buat pemula mah. Maklumin ya, saya mah da bukan orang desain. Anggap aja saya newbie selamanya. Hehe.

Jadi, jurusan ilmu yang saya ambil pada saat NHW 1 adalah ilmu bersyukur. Tapi, saat ada tantangan di NHW 4 untuk membuat milestone per tahun, di situ saya merasa tenggelam dalam pusaran pikiran saya sendiri. Mumet, kalau bahasa sepanyol nya mah. Saya yang berpikiran amat praktis ini merasa, kalau ilmu syukur itu sulit di-milestone-kan. Karena, manusia itu tempat salah dan lupa. Kalau sudah merasa baik dan bersyukur di hari ini, bisa jadi besoknya tersilap lagi. Jadi, saya memutuskan untuk menambahkan jurusan ilmu menulis dalam kehidupan saya, di samping ilmu syukur yang sudah saya ambil. Continue reading

[NHW 4 IIP] Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

sunset-hands-love-woman

Foto: pexels.com

Memasuki pekan kelas matrikulasi IIP yang keempat, kali ini Nice Homework memberikan tantangan seputar pendidikan dengan kekuatan fitrah. Menarik, karena dari yang saya tangkap, sebelum kita dapat mendidik anak dan keluarga sesuai dengan fitrah yang mereka miliki, kita harus tahu fitrah diri kita sendiri dahulu seperti apa. Karena seorang perempuan yang menemukan dirinya, maka dia akan mudah mendapatkan ketenangan karena apa yang dia lakukan, dengarkan, dan rasakan, semua sudah sesuai dengan fitrah dan “cetakan” Illahi.

Perempuan yang telah mendapatkan ketenangan, kelak akan lebih mampu mendidik anak-anaknya sesuai dengan fitrah mereka masing-masing. Dia akan berkembang menjadi seorang Ibu yang tidak memaksakan cetakan baru kepada anak-anaknya, yang hasilnya tentu tidak sempurna dibandingkan dengan blue print dari Allah swt.

Maka, inilah tantangan NHW di pekan keempat:

Continue reading

[NHW 3 IIP] Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

reading-77167

Foto: pexels.com

Penugasan NHW kali ini cukup spesial. Di minggu ketiga ini, saya dan kawan-kawan di Kelas Matrikulasi IIP mendapat penugasan tentang membangun peradaban dari dalam rumah. Di bagian satu, menulis surat cinta untuk suami…yang dibaca publik. Haha. Biasanya sih, saya main gombal-gombalan sama suami (okay, saya yang lebih sering ngegombalin dia) secara privat. Hanya diantara kami berdua, bukan konsumsi publik. Daan, berhubung ini disetting buat publik, saya akan menuliskannya agar layak baca (dan lulus sensor, eh) khalayak ramai.

Ah, memang apa sih yang biasa saya tuliskan~

Continue reading

[NHW 2 IIP] Indikator Profesionalisme Perempuan

pexels-photo-248144

Foto: pexels.com

Saya membayangkan, kalau saya tidak memaksa diri saya untuk berbagai macam kegiatan virtual, seperti write challenge di Instagram, training-training via Whatsapp, komunitas blogger, sampai kuliah online IIP, barangkali saya akan lupa bagaimana caranya menulis. Menulis juga rupa-rupanya yang membuat saya semakin waras di hari-hari saya menjalani hari sebagai Ibu Rumah Tangga.

Minggu-minggu ini, saya kembali mengalami minds block. 

Entah istilah apa ini ya? Saya sebenarnya yang menciptakan sendiri sih. Momen-momen di mana tiba-tiba saya merasa malas melakukan apapun setelah mengalami hari yang sangat sibuk, atau sangat produktif sebenarnya. Sayang sekali rasanya. Minds block yang saya alami kemarin, bisa dibilang muncl tiba-tiba setelah kesibukan di minggu kemarin, dan ditambah kejenuhan akibat melihat orang saling serang di media sosial. Rasanya, apapun yang kita lontarkan di media sosial tetap saja ujungnya akan serba salah.  Ah, rasanya tidak ingin melakukan apa-apa.

Pada muaranya, sifat jelek saya kambuh. Tugas IIP yang diberikan kepada saya, saya kerjakan menunggu injury time,  di detik-detik terakhir. Gawai saya yang error semenjak beberapa hari yang lalu membuat kemalasan saya bertambah-tambah. Krik.

Siang ini, setelah tilawah sebentar usai salat dzuhur, saya mulai membaca lagi review materi, diskusi, dan juga penugasan NHW 2. Saya membaca, melihat-lihat sedikit tugas yang sudah dikerjakan teman-teman, tertawa kecil, dan merenung. Betapa tugas NHW kali ini menyentil saya. Menohok, bisa dibilang begitu juga.

Continue reading